Senin, 20 Oktober 2014

Sepintas Kenangan

by Annisa Ekayosa at 05.37

Bruuukkk!!!! Suara tumpukan buku yang terjatuh dari atas lemari
“Hati-hati yos” Teriak temanku yang membantuku packing sore ini
Ku pungut buku yang hampir menjatuhi ku tadi, terlihat disalah satu tumpukan buku tersebut terdapat diary tua yang sudah lama tak ku jamah.
“diary masa SMA rupanya” 

Ku rebahkan kaki ku untuk membaca diary tua tersebut sembari beristirahat sebentar. Tak kusangka air mata yang tak ku undang datang begitu saja membasahi pipi ku. Terasa kembali ke 5 tahun yang lalu, dimana, saat air mata ini masih ada yang ingin menghapusnya, pundak ini masih ada tangan yang selalu menepuknya untuk memberiku semangat. Yah ke masa dimana aku masih memilikinya. Terselip sebuah poto lama ku bersamanya, ku pandangi hingga ku terlarut dalam senyuman tanpa arti menghiasi pipi ku yang sudah basah karena air mata.
“bahkan, kehagatan muncul hanya karena memikirkan mu, apalagi jika kau berada disini” 

Air mata kembali membanjiri pipi ku ketika ingatan ku tentangya kembali, apa yang sebenarnya ku tangisi ? toh kejadian itu sudah 5 tahun yang lalu. Namun, walau kejadian ini sudah berlalu cukup lama, perasaan ini tak pernah berubah dari awal bertemu hingga berpisah seperti ini. Hanya karena satu penyesalan yang selalu menghantui ku ketika mengingatnya, yaitu tak pernah memberitahu perasaan ku yang sebenarnya. Yang ia tau, aku oergi meninggalkannya hanya karena aku ingin kehidupan yang bebas. Namun dibalik itu semua, aku lah yang ingin ia bebas dari kehidupan ku, aku hanya ingin yang terbaik untuknya walau mengorbankan perasaan ku, namun apa yang ku dapat? Bodohnya aku, membiarkan seseorang yang kucintai pergi begitu saja hanya karena ingin melihatnya bahagia. Sungguh munafik sekali. Andai saja aku bisa sedikit lebih egois. Pasti akhirya tak akan pernah seperti ini.
Namun nasi sudah menjadi bubur, hanya sedikit orang yang memahami perasaan ku, bahkan jika hal ini dianggap salah, biarkan aku menyimpannya untuk diriku sendiri, karena melupakannya sama saja menyiramkan garam ke lukaku sendiri. 
Aku terlarut dalam tangisanku, teriakan hati ini sudah tidak bisa ku tahan lagi, ku lihat diary ini sudah basah akibat air mata ku.
“apa yang ku perbuat? Bahkan mengingatnya saja sudah membuat air mata ini menetes! Ah bodohnya aku! Ini kan masa lalu”
Ku hapus air mata yang sudah membasahi pipiku, walau perasaan ini sakit rasanya mengingat hal bodoh yang pernah aku lakukan dulu.
“yos?” seru teman ku dari arah  pintu kamarku, ia beerjalan menghampiriku dengan perlahan, duduk disampingku dan menatapku seakan bertanya-tanya ada apa dengan ku
“tidak, bukan apa-apa”
Seakan temanku berubah menjadi bisu, ia melihat diary yang ku genggam dan kembali menatapku 
“bukan karena diary ini, sungguh”
“yos, kau hanya butuh seseorang yang bisa menggantikannya” 
Aku menggelengkan kepalaku seakan pendapatnya salah
“bukan karena kesepian, aku tidak bisa melupakannya” 
“lalu?”
“kenanganlah yang memaksaku untuk terus mencintainya” 
Seketika temanku memasang wajah heran
“kenangan menyakitkan juga?” 
“ah, walah begitu, hal itu lah yang membuatku rindu padanya. Aku masih mencintainya” seru ku sembari menatap jari manis kanan ku yang dihiasi cincin pemberiannya
Terasa temanku menepuk pundakku mengingatkan ku pada nya 
“kau tak apa?”
Aku tersenyum, kembali bersemangat 
“tak apa! Lupakan, yosh! Sekarang aku akan memilih buku yang akan ku bawa”
Kembali temanku memasang wajah herannya karena tingkahku. Yah, hanya ini yang dapat ku lakukan untuk menutupi perasaan ku. 
Andai kau dengar itu, aku masih benar-benar mencintaimu ♥

3 bagi komentar dan saran ya :$:

 

ANNISA EKAYOSA'S BLOG Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review